Minggu, 01 Maret 2009

Rihlah Ilmiah FORKA PKM, Ponpes Azzaytun

Bismillah,



Setelah mundur dari jadwal yang telah ditentukan, akhirnya Rihlah Ilmiah FORKA PKM terwujud juga. Rihlah ini adalah bagian dari rangkaian kegiatan tahunan FORKA PKM dalam rangka pembinaan dan koordinasi terhadap para alumni PKM yang tersebar di JABODETABEK.
Tema rihlah kali ini adalah "Berdakwah Dengan Mengedepankan Tabayun", adapun objeknya adalah Ponpes Azzaytun di Heurgelis - Indramayu - Jabar. Objek diambil berkenaan dengan santernya berita tentang kontroversi Ponpes Azzaytun dikalangan muslim indonesia semenjak berdirinya tahun 1999 silam.


Setelah registrasi peserta selesai, jam 07.45 rombongan mulai meluncur meninggalkan Jakarta menuju Indramayu Jawa Barat, perkiraan waktu yang diakomodasikan panitia adalah 4 s/d 5 jam perjalanan, jadi insya Allah sampai di tujuan tepat pada waktu dzuhur.
5 jam makan waktu perjalanan bukanlah waktu yang singkat, akan sangat membosankan jika tidak digunakan untuk bertatakramah atau networking sesama alumnus yang ikut dalam rombongan. Dan pada intinya memang itulah fungsi FORKA PKM yaitu menganggendakan kegiatan-kegiatan seperti rihlah kali ini.


Alhamdulillah bus rombongan tiba dengan selamat di lokasi sekitar jam 2 siang, molor dari waktu yang telah ditentukan. Panitia segera melakukan koordinasi dengan pihak ponpes azzaytun, setelah selesai rombongan digiring menuju aula guna melakukan audensi dengan perwakilan ponpes Azzaytun. Suasan audensi cukup hangat walaupun hujan turun cukup deras saat itu,
salah satu pertanyaan yang membuat suasana menghangat adalah pertanyaan keterkaitan Azzaytun dengan NII serta kebenaran berita tentang adanya presiden dan mentreri-menteri versi Azzaytun, tak lupa isu seputar pendanaan Azzaytun yang melibatkan beberapa orang penting di negara ini.

Setelah isoma rombongan mulai diajak menelusuri komplek ponpes Azzaytun yang sangat luas tersebut, karena waktu kami tidak cukup banyak maka panitia sepakat memilih lokasi-lokasi penting saja seperti, Masjid Azzaytun, Asrama siswa dan Laboratorium Komputer.


Masjid yang konon bergaya kesultanan brunai ini belum juga rampung semenjak 2004, pembangunan yang telah selesai sekitar 60% dan sisanya 40% lagi dikalkulasikan akan memakan biaya sekita 200 milyard lagi.


Yang sangat mengagumkan adalah laboratorium komputer, katanya laboratorium ini adalah laboratorium komputer yang terbesar di Asia. Bukanlah sebuah omong kosong jika ketika audensi perwakilan ponpes menyatakan bahwa output Azzaytun adalah "The Best Human Material" karena memang siswa setingkat SD disana sudah diajarkan Program ISDL komputer. Belum lagi bicara kedisiplinan yang diterapkan disana.

Sayang waktu kami terbatas, rombongan harus bertolak kejakarta meskipun belum semua misteri Azzaytun bisa dilihat. Kurang lebih jam 16.30 kami meninggalkan Azzaytun kembali ke Jakarta dan tiba di JIC sekitar pukul 22.00 wib, fuihhh....rihlah yang melelahkan semoga saja menambah ilmu pengetahuan..



windie

Tidak ada komentar: