Kamis, 02 Oktober 2008

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429H



الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Saya mengucapkan...


تقبل الله منا و منكم صيامنا و صيامكم

MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN...
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Kamis, 14 Agustus 2008

Arti Sebuah Kemerdekaan

ARTI SEBUAH KEMERDEKAAN
Oleh : M. Ash-Shiddiqi[1]
Tanggal 17 Agustus setiap tahun diperingati sebagai hari kemerdekaan negara kita tercinta, Republik Indonesia. Dan pada tahun ini merupakan peringatan yang ke-61 tahun. Memperingati kemerdekaan tentu saja diperbolehkan, bahkan sangat dianjurkan jika dapat menumbuhkan kecintaan pada bangsa, sebab kecintaan pada bangsa sendiri merupakan bagian dari keimanan. Sebagaimana diingatkan dalam atsar sahabat Umar bin Khattab ra yang mengatakan : "Hubbul wathan minal iman" atau cinta tanah air sebagian daripada iman. Di negeri kita peringatan tersebut hampir serentak di seluruh pelosok nusantara, mulai dari istana negara, perkantoran, sekolah, dan sebagainya. Peringatan tidak sebatas formal saja, akan tetapi yang non-formal pun ikut digelar, seperti karnaval, sayembara, perlombaan, dan sebagainya. Di hari-hari sebelum 17 Agustus pun di tiap rumah kita dikibarkan bendera merah-putih, bukti simbolis kita ikut memperingati hari merdeka. Bahkan bangsa kita pernah memperingati kemerdekaannya dengan mendirikan masjid, yang diberi nama dengan Masjid "Kemerdekaan" atau Istiqlal.
Itulah kurang lebih bentuk peringatan hari Kemerdekaan Bangsa kita, yang 'wajib' tiap tahun diadakan. Bahkan di malam hari sebelum 17 Agustus pun atau biasa dikenal 'malam tirakatan' tak boleh dilewatkan. Malam yang umumnya dijadikan renungan mengenai arti kemerdekaan.
Menarik untuk direnungkan melalui renungan keagamaan (baca : Islam) mengenai arti kemerdekaan. Al-Qur'an secara implisit mengemukakan ada dua arti kemerdekaan serta petunjuk pelaksana (juklak) memperingati dan mengisi kemerdekaan tersebut. Pertama, Kemerdekaan merupakan upaya penyelamatan dari Allah SWT. Perhatikan Firman Allah SWT dalam surat Ibrahim : 6: "Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya : 'Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Fir'aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu dan pada yang demikian itu adalah cobaan yang besar dari Tuhanmu."
Ayat di atas menerangkan peringatan Nabi Musa as kepada kaumnya tentang nikmat kemerdekaan yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka. Kemerdekaan itu berupa penyelamatan gemilang dari Allah SWT yakni terlepas dari cengkeraman kaum penindas / penjajah Fir'aun di Mesir. Para mufassir (ahli tafsir Al-Qur'an) menyebutkan banyaknya penyelamatan Allah kepada Bani Isra'il, namun yang terbesar adalah dibelahkan-Nya lautan menjadi daratan untuk kemudian dilalui sebagai pelarian dari kaum penjajah Fir'aun, Bani Isra'il pun selamat dari cengkraman mereka. Untuk konteks Indonesia tentu saja penyelamatan Allah SWT dari para penjajah seperti Portugis, Belanda, dan Jepang. Bentuknya, berupa pengusiran para penjajah tersebut yang konon hanya menggunakan bambu runcing, suatu upaya yang irasional namun berhasil. Dari sinilah ada yang menafsirkan kemenangan tersebut merupakan "campurtangan" Tuhan. Wallahu a'lam, yang jelas saat itu hingga kini Indonesia telah selamat dari kaum penjajah, namun tentu sebagai Muslim kita tidak boleh menafikan peranan Allah SWT dalam menyelamatkan bangsa ini.
Kemudian masih dalam ayat di atas, diberitahukan juklak dalam memperingati dan mengisi kemerdekaan, yakni "Adz-Dzikr", artinya peringatan (Kamus Kontemporer Arab-Indonesia, Atabik Ali)-ini menjadi tambahan bolehnya memperingati hari kemerdekaan.
Qurthubi dalam tafsirnya, mengatakan, "Adz-Dzikr" adalah antonim dari lupa / kelupaan. Sebelumnya ia membagi "Adz-Dzikr" menjadi dua, "Adz-Dzikr" dengan hati (bil qalbi) dan "Adz-Dzikr" dengan lisan (bil lisani). Lebih jauh Qurthubi, ketika menafsirkan ayat di atas, yang dituntut dalam ayat tersebut adalah "Adz-Dzikr" dengan hati yaitu agar tidak lalai atau lupa terhadap berbagai nikmat Allah SWT yang telah dilimpahkan, dan jangan pula berusaha melupakannya atau pura-pura lupa.
Sedangkan pengertian "Adz-Dzikr" secara terminologi tafsir adalah ketaatan pada Allah SWT (thâ'atullâh). Jadi, siapa yang tidak taat pada-Nya, maka tidak ingat (dzikr) pada-Nya. Ini senada dengan sabda Rasulullah SAW : "Siapa yang mentaati Allah maka telah ingat (dzikr) pada Allah walaupun minimal shalat, puasa, dan perbuatan baik lainnya. Dan siapa yang mendurhakai Allah maka telah melupakan Allah walaupun maksimal shalat, puasa, dan perbuatan baik lainnya." (Al-Hadist) {Lihat Tafsîr al-Qurthubî, Jilid 2, h.79}
Itulah juklak dalam memperingati dan mengisi kemerdekaan, ringkasnya, hendaklah senantiasa ingat akan nikmat-nikmat Allah SWT (dzikrun ni'mah) dengan ketaatan kepada-Nya dan diiringi dengan bersyukur kepada-Nya, sebab ayat selanjutnya dari Surat Ibrahim : 6 di atas adalah perintah bersyukur. Kuncinya, seperti dikatakan Fakhrur Razi dalam tafsirnya, mengakui kemerdekaan sebagai nikmat dari Tuhan, mengagungkan-Nya, dan mentaati-Nya sebagai tanda syukur dan terima kasih. {Lihat Tafsîr al-Kabîr, Jld 19, h.86}
Selanjutnya, arti kemerdekaan serta juklak (petunjuk pelaksana) memperingati dan mengisinya. Kedua, Pertolongan dan kemenangan dari Allah SWT. Dalam peperangan (war), ada kekalahan (defeat) dan ada kemenangan (victory). Dalam hal kemenangan Al-Qur'an senantiasa menggandeng kata 'pertolongan dari Allah' (help from God) atau 'pertolongan Allah' (help of God), seperti Firman Allah SWT dalam Surat Ash-Shaf : 13 : "...pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (speedy)...". dan juga Firman-Nya dalam Surat An-Nasr : 1 : "Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan." {Lihat A. Yusuf Ali, The Holy Qur'an Translation and Commentary, h.1542, 1802}
Pertolongan dan kemenangan yang dimaksud tidak lain merupakan pertolongan dan kemenangan bagi kaum Muslimin, untuk itu implisit kita bangsa Indonesia. Sebab sejarah perjuangan bangsa ini-seperti telah disinggung-yang konon hanya menggunakan bambu runcing dalam mengusir para penjajah, tidak mungkin menang melawan persenjataan modern kala itu tanpa pertolongan dari Tuhan. Maka sudah sepatutnya kita meyakini bahwa kemerdekaan bangsa ini merupakan pertolongan dan kemenangan yang diberikan Allah SWT disamping perjuanganyang sangat gigih. Bahkan para pendiri bangsa (The Founding Fathers) kita lebih 'ekstrim' lagi, bahwa kemerdekaan merupakan rahmat dari Allah SWT, seperti dituangkan dalam pembukaan (preambule) UUD '45, yang menyatakan : "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya."
Adapun juklak dalam memperingati dan mengisi kemerdekaan dijelaskan dalam lanjutan Surah An-Nasr di atas (ayat 3), yakni : 1. Bertasbih dengan Memuji Allah SWT, yaitu mensucikan-Nya dari segala yang tidak sepatutnya ketika bersyukur kepada-Nya, seperti mensekutukan-Nya (syirik) dan sebagainya. Serta memuji-Nya atas apa-apa yang telah diberikan-Nya berupa keberhasilan / kesuksesan atau kemenangan. 2. Beristighfar kepada Allah SWT, atau memohon ampunan kepada-Nya secara konsisten (mudâwamatu adz-dzikr). 3. Bertaubat kepada Allah SWT, yakni menyesali segala kesalahan (dosa) yang telah diperbuat, meninggalkan segala bentuk maksiat (durhaka kepada-Nya), dan bertekad tidak akan mengulangi kesalahan (dosa) yang serupa. (taubatan nasuha)
Itulah secara garis besar arti dari sebuah kemerdekaan suatu bangsa melalui renungan keagamaan serta petunjuk melaksakan atau mengisi kemerdekaan, yang intinya pengisian kemerdekaan itu harus bernuansakan keIlahian (keTuhanan, petunjuk Tuhan), agar keberkahan kemerdekaan tetap dicurahkan-Nya, seperti digambarkan dalam Qur'an Surah Al-A'raf : 96. Namun jika pengisian kemerdekaan dengan cara sebaliknya (non-keIlahian), yang terjadi pun kebalikannya, diantaranya bencana atau musibah yang susul-menyusul, kekacauan, kecemasan / ketakutan, kesejahteraan yang tidak merata, dan sebagainya. Na'udzubillah min dzalik. Wallahu A'lam.


[1] Wakil Sekretaris Forka-PKM KODI

Selasa, 11 Maret 2008

Umar Bin Abul Aziz dan Bangkai Ular

Oleh: [url=http://my.opera.com/Arian12/]
windi iskandar [/url]


Suatu hari Umar bin Abdul Aziz berkunjung ke rumah seorang sahabatnya, pendek cerita setelah merasa waktu silaturahmi bersama sahabatnya itu cukup, beliaupun pamit untuk pulang. Sebagai seorang sahabat yang dilandasi rasa persahabatan yang tulus maka dia ingin agar pembantunya mengawal Umar bin Abdul Aziz sampai ke pinggiran desa. Akhirnya Umar pun berjalan pulang dengan menunggang kudanya dan tentu saja ditemani oleh pembantu sahabatnya tersebut. Ditengah perjalanan Umar menghentikan laju kudanya karena ia melihat dihadapannya terdapat bangkai ular yang mati . Umar turun dari kudanya lantas berjalan mendekati bangkai ular tersebut, diangkatnya bangkai tersebut, kemudian ia menggali tanah, membuat sebuah lubang. Ketika selesai lubang digali dikuburkannya bangkai ular tersebut didalam lubang dan ia-pun melanjutkan perjalanannya. Belumlah jauh kudanya melangkah Umar bin Abdul Aziz dan sang pembantu mendengar suara dari belakang mereka memanggil... "wahai khorqo....wahai khorqo....", mereka menoleh kebelakang dengan segera :left::right: namun anehnya tidak ada seorang-pun yang ditangkap oleh penglihatan mereka! Mereka berusaha tidak mengidahkan kejadian aneh tersebut, namun suara itu muncul lagi "wahai khorqo....wahai khorqo....":woried: kemudian Umar berhenti lantas berteriak dengan sigap: "wahai yang memiliki suara tadi, jika anda bisa menampakan diri anda, maka tampakanlah diri anda..!!!" ...dan....munculah seseorang pria pemilik suara tersebut.....
Singkat cerita terjadilah dialog, pria tersebut berkata kepada Umar: "aku adalah jin dan khorqo adalah nama ular yang engkau kuburkan tadi, dia juga adalah jin muslim. Aku dan dia serta kaum kami adalah serombongan jin yang menghadap Rosulullah s.a.w untuk mendengarkan al-Qur'an, yang dikisahkan oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya: "Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu (Muhammad) serombongan jin yang mendengarkan (bacaan) al-Qur'an, maka ketika mereka menghadiri (pembacaan)nya mereka berkata, "Diamlah kamu! (untuk mendengarkannya)" maka ketika telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan" QS: Al-Ahqôf:29.
Ketika itu Rosulullah s.a.w berkata kepada Khorqo bahwa dia suatu hari nanti akan meninggal dunia disebuah padang yang luas dan saat itu dia akan dikebumikan oleh seorang hamba Allah yang paling terbaik di zaman tersebut. Umar bin Abdul Aziz paham, bahwa beliaulah yang dimaksud oleh ramalan Rosulullah s.a.w. Beliau bertanya kepada jin tersebut, menegaskan: "sungguh-kah engkau mendengarnya langsung dari Rosulullah...?! Jin berkata: "demi Allah aku mendengarnya langsung dari Rosulullah...!!!"
Sang jin-pun berlalu. Hening.....
Sang pembantu yang sedari tadi mendengarkan dialog tersebut, diam. Umar memulai pembicaraan dengan berkata kepadanya: "janganlah kejadian ini engkau ceritakan kepada siapapun sampai suatu saat nanti aku mati...."

silahkan ambil hikmah dan pelajaran sendiri :)