Jumat, 2009 Maret 27
Turut Berduka Cita atas meninggalnya Bpk. H.M. Djauhari
Kami segenap jajaran pengurus dan anggota
semoga amal ibadah beliau diterima disisi Allah SWT, dan bagi segenap keluarga yang ditinggalkannya diberikan kesabaran dan kelapangan dada atas kepergiannya
Minggu, 2009 Maret 01
Rihlah Ilmiah FORKA PKM, Ponpes Azzaytun
Bismillah,

Setelah mundur dari jadwal yang telah ditentukan, akhirnya Rihlah Ilmiah FORKA PKM terwujud juga. Rihlah ini adalah bagian dari rangkaian kegiatan tahunan FORKA PKM dalam rangka pembinaan dan koordinasi terhadap para alumni PKM yang tersebar di JABODETABEK.
Tema rihlah kali ini adalah "Berdakwah Dengan Mengedepankan Tabayun", adapun objeknya adalah Ponpes Azzaytun di Heurgelis - Indramayu - Jabar. Objek diambil berkenaan dengan santernya berita tentang kontroversi Ponpes Azzaytun dikalangan muslim indonesia semenjak berdirinya tahun 1999 silam.

Setelah registrasi peserta selesai, jam 07.45 rombongan mulai meluncur meninggalkan Jakarta menuju Indramayu Jawa Barat, perkiraan waktu yang diakomodasikan panitia adalah 4 s/d 5 jam perjalanan, jadi insya Allah sampai di tujuan tepat pada waktu dzuhur.
5 jam makan waktu perjalanan bukanlah waktu yang singkat, akan sangat membosankan jika tidak digunakan untuk bertatakramah atau networking sesama alumnus yang ikut dalam rombongan. Dan pada intinya memang itulah fungsi FORKA PKM yaitu menganggendakan kegiatan-kegiatan seperti rihlah kali ini.


Alhamdulillah bus rombongan tiba dengan selamat di lokasi sekitar jam 2 siang, molor dari waktu yang telah ditentukan. Panitia segera melakukan koordinasi dengan pihak ponpes azzaytun, setelah selesai rombongan digiring menuju aula guna melakukan audensi dengan perwakilan ponpes Azzaytun. Suasan audensi cukup hangat walaupun hujan turun cukup deras saat itu,

salah satu pertanyaan yang membuat suasana menghangat adalah pertanyaan keterkaitan Azzaytun dengan NII serta kebenaran berita tentang adanya presiden dan mentreri-menteri versi Azzaytun, tak lupa isu seputar pendanaan Azzaytun yang melibatkan beberapa orang penting di negara ini.
Setelah isoma rombongan mulai diajak menelusuri komplek ponpes Azzaytun yang sangat luas tersebut, karena waktu kami tidak cukup banyak maka panitia sepakat memilih lokasi-lokasi penting saja seperti, Masjid Azzaytun, Asrama siswa dan Laboratorium Komputer.

Masjid yang konon bergaya kesultanan brunai ini belum juga rampung semenjak 2004, pembangunan yang telah selesai sekitar 60% dan sisanya 40% lagi dikalkulasikan akan memakan biaya sekita 200 milyard lagi.

Yang sangat mengagumkan adalah laboratorium komputer, katanya laboratorium ini adalah laboratorium komputer yang terbesar di Asia. Bukanlah sebuah omong kosong jika ketika audensi perwakilan ponpes menyatakan bahwa output Azzaytun adalah "The Best Human Material" karena memang siswa setingkat SD disana sudah diajarkan Program ISDL komputer. Belum lagi bicara kedisiplinan yang diterapkan disana.
Sayang waktu kami terbatas, rombongan harus bertolak kejakarta meskipun belum semua misteri Azzaytun bisa dilihat. Kurang lebih jam 16.30 kami meninggalkan Azzaytun kembali ke Jakarta dan tiba di JIC sekitar pukul 22.00 wib, fuihhh....rihlah yang melelahkan semoga saja menambah ilmu pengetahuan..
windie

Setelah mundur dari jadwal yang telah ditentukan, akhirnya Rihlah Ilmiah FORKA PKM terwujud juga. Rihlah ini adalah bagian dari rangkaian kegiatan tahunan FORKA PKM dalam rangka pembinaan dan koordinasi terhadap para alumni PKM yang tersebar di JABODETABEK.
Tema rihlah kali ini adalah "Berdakwah Dengan Mengedepankan Tabayun", adapun objeknya adalah Ponpes Azzaytun di Heurgelis - Indramayu - Jabar. Objek diambil berkenaan dengan santernya berita tentang kontroversi Ponpes Azzaytun dikalangan muslim indonesia semenjak berdirinya tahun 1999 silam.

Setelah registrasi peserta selesai, jam 07.45 rombongan mulai meluncur meninggalkan Jakarta menuju Indramayu Jawa Barat, perkiraan waktu yang diakomodasikan panitia adalah 4 s/d 5 jam perjalanan, jadi insya Allah sampai di tujuan tepat pada waktu dzuhur.
5 jam makan waktu perjalanan bukanlah waktu yang singkat, akan sangat membosankan jika tidak digunakan untuk bertatakramah atau networking sesama alumnus yang ikut dalam rombongan. Dan pada intinya memang itulah fungsi FORKA PKM yaitu menganggendakan kegiatan-kegiatan seperti rihlah kali ini.


Alhamdulillah bus rombongan tiba dengan selamat di lokasi sekitar jam 2 siang, molor dari waktu yang telah ditentukan. Panitia segera melakukan koordinasi dengan pihak ponpes azzaytun, setelah selesai rombongan digiring menuju aula guna melakukan audensi dengan perwakilan ponpes Azzaytun. Suasan audensi cukup hangat walaupun hujan turun cukup deras saat itu,

salah satu pertanyaan yang membuat suasana menghangat adalah pertanyaan keterkaitan Azzaytun dengan NII serta kebenaran berita tentang adanya presiden dan mentreri-menteri versi Azzaytun, tak lupa isu seputar pendanaan Azzaytun yang melibatkan beberapa orang penting di negara ini.Setelah isoma rombongan mulai diajak menelusuri komplek ponpes Azzaytun yang sangat luas tersebut, karena waktu kami tidak cukup banyak maka panitia sepakat memilih lokasi-lokasi penting saja seperti, Masjid Azzaytun, Asrama siswa dan Laboratorium Komputer.

Masjid yang konon bergaya kesultanan brunai ini belum juga rampung semenjak 2004, pembangunan yang telah selesai sekitar 60% dan sisanya 40% lagi dikalkulasikan akan memakan biaya sekita 200 milyard lagi.

Yang sangat mengagumkan adalah laboratorium komputer, katanya laboratorium ini adalah laboratorium komputer yang terbesar di Asia. Bukanlah sebuah omong kosong jika ketika audensi perwakilan ponpes menyatakan bahwa output Azzaytun adalah "The Best Human Material" karena memang siswa setingkat SD disana sudah diajarkan Program ISDL komputer. Belum lagi bicara kedisiplinan yang diterapkan disana.
Sayang waktu kami terbatas, rombongan harus bertolak kejakarta meskipun belum semua misteri Azzaytun bisa dilihat. Kurang lebih jam 16.30 kami meninggalkan Azzaytun kembali ke Jakarta dan tiba di JIC sekitar pukul 22.00 wib, fuihhh....rihlah yang melelahkan semoga saja menambah ilmu pengetahuan..
windie
Jumat, 2009 Februari 27
Rihlah Ilmiah Forka PKM
Diberitahukan kepada segenap alumni PKM, bahwa FORKA PKM akan melaksanakan kegiatan Rihlah Ilmiah ke Ponpes Azzaitun pada tgl 28 Feb 2009 dengan ketentuan sebagai berikut:
¤ Rihlah dilaksanakan pada 28 Feb 2009.
¤ Peserta rihlah adalah Alumni PKM yang telah diregistrasikan lewat telpon.
¤ Peserta diharapkan mengenakan almamater PKM.
¤ Berangkat dari JIC Jakut jam 7.00 wib, peserta harap datang sebelumnya untuk breefing.
¤ Informasi hubungi 0856 9759 0911 c/p Windi Iskandar.
Bagi alumni PKM yang belum berkesempatan ikut serta dalam acara ini kami ucapkan maaf karena keterbatasan biaya dan tempat juga terputusnya kontak, maka untuk yang terakhir kami harapkan para alumni agar mengirimkan no telepon kepada kami agar dapat kami hubungi jika ada kegiatan lainnya.
Terima kasih.
¤ Rihlah dilaksanakan pada 28 Feb 2009.
¤ Peserta rihlah adalah Alumni PKM yang telah diregistrasikan lewat telpon.
¤ Peserta diharapkan mengenakan almamater PKM.
¤ Berangkat dari JIC Jakut jam 7.00 wib, peserta harap datang sebelumnya untuk breefing.
¤ Informasi hubungi 0856 9759 0911 c/p Windi Iskandar.
Bagi alumni PKM yang belum berkesempatan ikut serta dalam acara ini kami ucapkan maaf karena keterbatasan biaya dan tempat juga terputusnya kontak, maka untuk yang terakhir kami harapkan para alumni agar mengirimkan no telepon kepada kami agar dapat kami hubungi jika ada kegiatan lainnya.
Terima kasih.
Kamis, 2008 Oktober 02
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429H

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
Saya mengucapkan...
تقبل الله منا و منكم صيامنا و صيامكم
MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN...
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
Kamis, 2008 Agustus 14
Arti Sebuah Kemerdekaan
ARTI SEBUAH KEMERDEKAAN
Oleh : M. Ash-Shiddiqi[1]
Tanggal 17 Agustus setiap tahun diperingati sebagai hari kemerdekaan negara kita tercinta, Republik Indonesia. Dan pada tahun ini merupakan peringatan yang ke-61 tahun. Memperingati kemerdekaan tentu saja diperbolehkan, bahkan sangat dianjurkan jika dapat menumbuhkan kecintaan pada bangsa, sebab kecintaan pada bangsa sendiri merupakan bagian dari keimanan. Sebagaimana diingatkan dalam atsar sahabat Umar bin Khattab ra yang mengatakan : "Hubbul wathan minal iman" atau cinta tanah air sebagian daripada iman. Di negeri kita peringatan tersebut hampir serentak di seluruh pelosok nusantara, mulai dari istana negara, perkantoran, sekolah, dan sebagainya. Peringatan tidak sebatas formal saja, akan tetapi yang non-formal pun ikut digelar, seperti karnaval, sayembara, perlombaan, dan sebagainya. Di hari-hari sebelum 17 Agustus pun di tiap rumah kita dikibarkan bendera merah-putih, bukti simbolis kita ikut memperingati hari merdeka. Bahkan bangsa kita pernah memperingati kemerdekaannya dengan mendirikan masjid, yang diberi nama dengan Masjid "Kemerdekaan" atau Istiqlal.
Itulah kurang lebih bentuk peringatan hari Kemerdekaan Bangsa kita, yang 'wajib' tiap tahun diadakan. Bahkan di malam hari sebelum 17 Agustus pun atau biasa dikenal 'malam tirakatan' tak boleh dilewatkan. Malam yang umumnya dijadikan renungan mengenai arti kemerdekaan.
Menarik untuk direnungkan melalui renungan keagamaan (baca : Islam) mengenai arti kemerdekaan. Al-Qur'an secara implisit mengemukakan ada dua arti kemerdekaan serta petunjuk pelaksana (juklak) memperingati dan mengisi kemerdekaan tersebut. Pertama, Kemerdekaan merupakan upaya penyelamatan dari Allah SWT. Perhatikan Firman Allah SWT dalam surat Ibrahim : 6: "Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya : 'Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Fir'aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu dan pada yang demikian itu adalah cobaan yang besar dari Tuhanmu."
Ayat di atas menerangkan peringatan Nabi Musa as kepada kaumnya tentang nikmat kemerdekaan yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka. Kemerdekaan itu berupa penyelamatan gemilang dari Allah SWT yakni terlepas dari cengkeraman kaum penindas / penjajah Fir'aun di Mesir. Para mufassir (ahli tafsir Al-Qur'an) menyebutkan banyaknya penyelamatan Allah kepada Bani Isra'il, namun yang terbesar adalah dibelahkan-Nya lautan menjadi daratan untuk kemudian dilalui sebagai pelarian dari kaum penjajah Fir'aun, Bani Isra'il pun selamat dari cengkraman mereka. Untuk konteks Indonesia tentu saja penyelamatan Allah SWT dari para penjajah seperti Portugis, Belanda, dan Jepang. Bentuknya, berupa pengusiran para penjajah tersebut yang konon hanya menggunakan bambu runcing, suatu upaya yang irasional namun berhasil. Dari sinilah ada yang menafsirkan kemenangan tersebut merupakan "campurtangan" Tuhan. Wallahu a'lam, yang jelas saat itu hingga kini Indonesia telah selamat dari kaum penjajah, namun tentu sebagai Muslim kita tidak boleh menafikan peranan Allah SWT dalam menyelamatkan bangsa ini.
Kemudian masih dalam ayat di atas, diberitahukan juklak dalam memperingati dan mengisi kemerdekaan, yakni "Adz-Dzikr", artinya peringatan (Kamus Kontemporer Arab-Indonesia, Atabik Ali)-ini menjadi tambahan bolehnya memperingati hari kemerdekaan.
Qurthubi dalam tafsirnya, mengatakan, "Adz-Dzikr" adalah antonim dari lupa / kelupaan. Sebelumnya ia membagi "Adz-Dzikr" menjadi dua, "Adz-Dzikr" dengan hati (bil qalbi) dan "Adz-Dzikr" dengan lisan (bil lisani). Lebih jauh Qurthubi, ketika menafsirkan ayat di atas, yang dituntut dalam ayat tersebut adalah "Adz-Dzikr" dengan hati yaitu agar tidak lalai atau lupa terhadap berbagai nikmat Allah SWT yang telah dilimpahkan, dan jangan pula berusaha melupakannya atau pura-pura lupa.
Sedangkan pengertian "Adz-Dzikr" secara terminologi tafsir adalah ketaatan pada Allah SWT (thâ'atullâh). Jadi, siapa yang tidak taat pada-Nya, maka tidak ingat (dzikr) pada-Nya. Ini senada dengan sabda Rasulullah SAW : "Siapa yang mentaati Allah maka telah ingat (dzikr) pada Allah walaupun minimal shalat, puasa, dan perbuatan baik lainnya. Dan siapa yang mendurhakai Allah maka telah melupakan Allah walaupun maksimal shalat, puasa, dan perbuatan baik lainnya." (Al-Hadist) {Lihat Tafsîr al-Qurthubî, Jilid 2, h.79}
Itulah juklak dalam memperingati dan mengisi kemerdekaan, ringkasnya, hendaklah senantiasa ingat akan nikmat-nikmat Allah SWT (dzikrun ni'mah) dengan ketaatan kepada-Nya dan diiringi dengan bersyukur kepada-Nya, sebab ayat selanjutnya dari Surat Ibrahim : 6 di atas adalah perintah bersyukur. Kuncinya, seperti dikatakan Fakhrur Razi dalam tafsirnya, mengakui kemerdekaan sebagai nikmat dari Tuhan, mengagungkan-Nya, dan mentaati-Nya sebagai tanda syukur dan terima kasih. {Lihat Tafsîr al-Kabîr, Jld 19, h.86}
Selanjutnya, arti kemerdekaan serta juklak (petunjuk pelaksana) memperingati dan mengisinya. Kedua, Pertolongan dan kemenangan dari Allah SWT. Dalam peperangan (war), ada kekalahan (defeat) dan ada kemenangan (victory). Dalam hal kemenangan Al-Qur'an senantiasa menggandeng kata 'pertolongan dari Allah' (help from God) atau 'pertolongan Allah' (help of God), seperti Firman Allah SWT dalam Surat Ash-Shaf : 13 : "...pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (speedy)...". dan juga Firman-Nya dalam Surat An-Nasr : 1 : "Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan." {Lihat A. Yusuf Ali, The Holy Qur'an Translation and Commentary, h.1542, 1802}
Pertolongan dan kemenangan yang dimaksud tidak lain merupakan pertolongan dan kemenangan bagi kaum Muslimin, untuk itu implisit kita bangsa Indonesia. Sebab sejarah perjuangan bangsa ini-seperti telah disinggung-yang konon hanya menggunakan bambu runcing dalam mengusir para penjajah, tidak mungkin menang melawan persenjataan modern kala itu tanpa pertolongan dari Tuhan. Maka sudah sepatutnya kita meyakini bahwa kemerdekaan bangsa ini merupakan pertolongan dan kemenangan yang diberikan Allah SWT disamping perjuanganyang sangat gigih. Bahkan para pendiri bangsa (The Founding Fathers) kita lebih 'ekstrim' lagi, bahwa kemerdekaan merupakan rahmat dari Allah SWT, seperti dituangkan dalam pembukaan (preambule) UUD '45, yang menyatakan : "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya."
Adapun juklak dalam memperingati dan mengisi kemerdekaan dijelaskan dalam lanjutan Surah An-Nasr di atas (ayat 3), yakni : 1. Bertasbih dengan Memuji Allah SWT, yaitu mensucikan-Nya dari segala yang tidak sepatutnya ketika bersyukur kepada-Nya, seperti mensekutukan-Nya (syirik) dan sebagainya. Serta memuji-Nya atas apa-apa yang telah diberikan-Nya berupa keberhasilan / kesuksesan atau kemenangan. 2. Beristighfar kepada Allah SWT, atau memohon ampunan kepada-Nya secara konsisten (mudâwamatu adz-dzikr). 3. Bertaubat kepada Allah SWT, yakni menyesali segala kesalahan (dosa) yang telah diperbuat, meninggalkan segala bentuk maksiat (durhaka kepada-Nya), dan bertekad tidak akan mengulangi kesalahan (dosa) yang serupa. (taubatan nasuha)
Itulah secara garis besar arti dari sebuah kemerdekaan suatu bangsa melalui renungan keagamaan serta petunjuk melaksakan atau mengisi kemerdekaan, yang intinya pengisian kemerdekaan itu harus bernuansakan keIlahian (keTuhanan, petunjuk Tuhan), agar keberkahan kemerdekaan tetap dicurahkan-Nya, seperti digambarkan dalam Qur'an Surah Al-A'raf : 96. Namun jika pengisian kemerdekaan dengan cara sebaliknya (non-keIlahian), yang terjadi pun kebalikannya, diantaranya bencana atau musibah yang susul-menyusul, kekacauan, kecemasan / ketakutan, kesejahteraan yang tidak merata, dan sebagainya. Na'udzubillah min dzalik. Wallahu A'lam.
[1] Wakil Sekretaris Forka-PKM KODI
Oleh : M. Ash-Shiddiqi[1]
Tanggal 17 Agustus setiap tahun diperingati sebagai hari kemerdekaan negara kita tercinta, Republik Indonesia. Dan pada tahun ini merupakan peringatan yang ke-61 tahun. Memperingati kemerdekaan tentu saja diperbolehkan, bahkan sangat dianjurkan jika dapat menumbuhkan kecintaan pada bangsa, sebab kecintaan pada bangsa sendiri merupakan bagian dari keimanan. Sebagaimana diingatkan dalam atsar sahabat Umar bin Khattab ra yang mengatakan : "Hubbul wathan minal iman" atau cinta tanah air sebagian daripada iman. Di negeri kita peringatan tersebut hampir serentak di seluruh pelosok nusantara, mulai dari istana negara, perkantoran, sekolah, dan sebagainya. Peringatan tidak sebatas formal saja, akan tetapi yang non-formal pun ikut digelar, seperti karnaval, sayembara, perlombaan, dan sebagainya. Di hari-hari sebelum 17 Agustus pun di tiap rumah kita dikibarkan bendera merah-putih, bukti simbolis kita ikut memperingati hari merdeka. Bahkan bangsa kita pernah memperingati kemerdekaannya dengan mendirikan masjid, yang diberi nama dengan Masjid "Kemerdekaan" atau Istiqlal.
Itulah kurang lebih bentuk peringatan hari Kemerdekaan Bangsa kita, yang 'wajib' tiap tahun diadakan. Bahkan di malam hari sebelum 17 Agustus pun atau biasa dikenal 'malam tirakatan' tak boleh dilewatkan. Malam yang umumnya dijadikan renungan mengenai arti kemerdekaan.
Menarik untuk direnungkan melalui renungan keagamaan (baca : Islam) mengenai arti kemerdekaan. Al-Qur'an secara implisit mengemukakan ada dua arti kemerdekaan serta petunjuk pelaksana (juklak) memperingati dan mengisi kemerdekaan tersebut. Pertama, Kemerdekaan merupakan upaya penyelamatan dari Allah SWT. Perhatikan Firman Allah SWT dalam surat Ibrahim : 6: "Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya : 'Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Fir'aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu dan pada yang demikian itu adalah cobaan yang besar dari Tuhanmu."
Ayat di atas menerangkan peringatan Nabi Musa as kepada kaumnya tentang nikmat kemerdekaan yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka. Kemerdekaan itu berupa penyelamatan gemilang dari Allah SWT yakni terlepas dari cengkeraman kaum penindas / penjajah Fir'aun di Mesir. Para mufassir (ahli tafsir Al-Qur'an) menyebutkan banyaknya penyelamatan Allah kepada Bani Isra'il, namun yang terbesar adalah dibelahkan-Nya lautan menjadi daratan untuk kemudian dilalui sebagai pelarian dari kaum penjajah Fir'aun, Bani Isra'il pun selamat dari cengkraman mereka. Untuk konteks Indonesia tentu saja penyelamatan Allah SWT dari para penjajah seperti Portugis, Belanda, dan Jepang. Bentuknya, berupa pengusiran para penjajah tersebut yang konon hanya menggunakan bambu runcing, suatu upaya yang irasional namun berhasil. Dari sinilah ada yang menafsirkan kemenangan tersebut merupakan "campurtangan" Tuhan. Wallahu a'lam, yang jelas saat itu hingga kini Indonesia telah selamat dari kaum penjajah, namun tentu sebagai Muslim kita tidak boleh menafikan peranan Allah SWT dalam menyelamatkan bangsa ini.
Kemudian masih dalam ayat di atas, diberitahukan juklak dalam memperingati dan mengisi kemerdekaan, yakni "Adz-Dzikr", artinya peringatan (Kamus Kontemporer Arab-Indonesia, Atabik Ali)-ini menjadi tambahan bolehnya memperingati hari kemerdekaan.
Qurthubi dalam tafsirnya, mengatakan, "Adz-Dzikr" adalah antonim dari lupa / kelupaan. Sebelumnya ia membagi "Adz-Dzikr" menjadi dua, "Adz-Dzikr" dengan hati (bil qalbi) dan "Adz-Dzikr" dengan lisan (bil lisani). Lebih jauh Qurthubi, ketika menafsirkan ayat di atas, yang dituntut dalam ayat tersebut adalah "Adz-Dzikr" dengan hati yaitu agar tidak lalai atau lupa terhadap berbagai nikmat Allah SWT yang telah dilimpahkan, dan jangan pula berusaha melupakannya atau pura-pura lupa.
Sedangkan pengertian "Adz-Dzikr" secara terminologi tafsir adalah ketaatan pada Allah SWT (thâ'atullâh). Jadi, siapa yang tidak taat pada-Nya, maka tidak ingat (dzikr) pada-Nya. Ini senada dengan sabda Rasulullah SAW : "Siapa yang mentaati Allah maka telah ingat (dzikr) pada Allah walaupun minimal shalat, puasa, dan perbuatan baik lainnya. Dan siapa yang mendurhakai Allah maka telah melupakan Allah walaupun maksimal shalat, puasa, dan perbuatan baik lainnya." (Al-Hadist) {Lihat Tafsîr al-Qurthubî, Jilid 2, h.79}
Itulah juklak dalam memperingati dan mengisi kemerdekaan, ringkasnya, hendaklah senantiasa ingat akan nikmat-nikmat Allah SWT (dzikrun ni'mah) dengan ketaatan kepada-Nya dan diiringi dengan bersyukur kepada-Nya, sebab ayat selanjutnya dari Surat Ibrahim : 6 di atas adalah perintah bersyukur. Kuncinya, seperti dikatakan Fakhrur Razi dalam tafsirnya, mengakui kemerdekaan sebagai nikmat dari Tuhan, mengagungkan-Nya, dan mentaati-Nya sebagai tanda syukur dan terima kasih. {Lihat Tafsîr al-Kabîr, Jld 19, h.86}
Selanjutnya, arti kemerdekaan serta juklak (petunjuk pelaksana) memperingati dan mengisinya. Kedua, Pertolongan dan kemenangan dari Allah SWT. Dalam peperangan (war), ada kekalahan (defeat) dan ada kemenangan (victory). Dalam hal kemenangan Al-Qur'an senantiasa menggandeng kata 'pertolongan dari Allah' (help from God) atau 'pertolongan Allah' (help of God), seperti Firman Allah SWT dalam Surat Ash-Shaf : 13 : "...pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (speedy)...". dan juga Firman-Nya dalam Surat An-Nasr : 1 : "Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan." {Lihat A. Yusuf Ali, The Holy Qur'an Translation and Commentary, h.1542, 1802}
Pertolongan dan kemenangan yang dimaksud tidak lain merupakan pertolongan dan kemenangan bagi kaum Muslimin, untuk itu implisit kita bangsa Indonesia. Sebab sejarah perjuangan bangsa ini-seperti telah disinggung-yang konon hanya menggunakan bambu runcing dalam mengusir para penjajah, tidak mungkin menang melawan persenjataan modern kala itu tanpa pertolongan dari Tuhan. Maka sudah sepatutnya kita meyakini bahwa kemerdekaan bangsa ini merupakan pertolongan dan kemenangan yang diberikan Allah SWT disamping perjuanganyang sangat gigih. Bahkan para pendiri bangsa (The Founding Fathers) kita lebih 'ekstrim' lagi, bahwa kemerdekaan merupakan rahmat dari Allah SWT, seperti dituangkan dalam pembukaan (preambule) UUD '45, yang menyatakan : "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya."
Adapun juklak dalam memperingati dan mengisi kemerdekaan dijelaskan dalam lanjutan Surah An-Nasr di atas (ayat 3), yakni : 1. Bertasbih dengan Memuji Allah SWT, yaitu mensucikan-Nya dari segala yang tidak sepatutnya ketika bersyukur kepada-Nya, seperti mensekutukan-Nya (syirik) dan sebagainya. Serta memuji-Nya atas apa-apa yang telah diberikan-Nya berupa keberhasilan / kesuksesan atau kemenangan. 2. Beristighfar kepada Allah SWT, atau memohon ampunan kepada-Nya secara konsisten (mudâwamatu adz-dzikr). 3. Bertaubat kepada Allah SWT, yakni menyesali segala kesalahan (dosa) yang telah diperbuat, meninggalkan segala bentuk maksiat (durhaka kepada-Nya), dan bertekad tidak akan mengulangi kesalahan (dosa) yang serupa. (taubatan nasuha)
Itulah secara garis besar arti dari sebuah kemerdekaan suatu bangsa melalui renungan keagamaan serta petunjuk melaksakan atau mengisi kemerdekaan, yang intinya pengisian kemerdekaan itu harus bernuansakan keIlahian (keTuhanan, petunjuk Tuhan), agar keberkahan kemerdekaan tetap dicurahkan-Nya, seperti digambarkan dalam Qur'an Surah Al-A'raf : 96. Namun jika pengisian kemerdekaan dengan cara sebaliknya (non-keIlahian), yang terjadi pun kebalikannya, diantaranya bencana atau musibah yang susul-menyusul, kekacauan, kecemasan / ketakutan, kesejahteraan yang tidak merata, dan sebagainya. Na'udzubillah min dzalik. Wallahu A'lam.
[1] Wakil Sekretaris Forka-PKM KODI
Selasa, 2008 Maret 11
Umar Bin Abul Aziz dan Bangkai Ular
Oleh: [url=http://my.opera.com/Arian12/]
windi iskandar [/url]
Suatu hari Umar bin Abdul Aziz berkunjung ke rumah seorang sahabatnya, pendek cerita setelah merasa waktu silaturahmi bersama sahabatnya itu cukup, beliaupun pamit untuk pulang. Sebagai seorang sahabat yang dilandasi rasa persahabatan yang tulus maka dia ingin agar pembantunya mengawal Umar bin Abdul Aziz sampai ke pinggiran desa. Akhirnya Umar pun berjalan pulang dengan menunggang kudanya dan tentu saja ditemani oleh pembantu sahabatnya tersebut. Ditengah perjalanan Umar menghentikan laju kudanya karena ia melihat dihadapannya terdapat bangkai ular yang mati . Umar turun dari kudanya lantas berjalan mendekati bangkai ular tersebut, diangkatnya bangkai tersebut, kemudian ia menggali tanah, membuat sebuah lubang. Ketika selesai lubang digali dikuburkannya bangkai ular tersebut didalam lubang dan ia-pun melanjutkan perjalanannya. Belumlah jauh kudanya melangkah Umar bin Abdul Aziz dan sang pembantu mendengar suara dari belakang mereka memanggil... "wahai khorqo....wahai khorqo....", mereka menoleh kebelakang dengan segera :left::right: namun anehnya tidak ada seorang-pun yang ditangkap oleh penglihatan mereka! Mereka berusaha tidak mengidahkan kejadian aneh tersebut, namun suara itu muncul lagi "wahai khorqo....wahai khorqo....":woried: kemudian Umar berhenti lantas berteriak dengan sigap: "wahai yang memiliki suara tadi, jika anda bisa menampakan diri anda, maka tampakanlah diri anda..!!!" ...dan....munculah seseorang pria pemilik suara tersebut.....
Singkat cerita terjadilah dialog, pria tersebut berkata kepada Umar: "aku adalah jin dan khorqo adalah nama ular yang engkau kuburkan tadi, dia juga adalah jin muslim. Aku dan dia serta kaum kami adalah serombongan jin yang menghadap Rosulullah s.a.w untuk mendengarkan al-Qur'an, yang dikisahkan oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya: "Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu (Muhammad) serombongan jin yang mendengarkan (bacaan) al-Qur'an, maka ketika mereka menghadiri (pembacaan)nya mereka berkata, "Diamlah kamu! (untuk mendengarkannya)" maka ketika telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan" QS: Al-Ahqôf:29.
Ketika itu Rosulullah s.a.w berkata kepada Khorqo bahwa dia suatu hari nanti akan meninggal dunia disebuah padang yang luas dan saat itu dia akan dikebumikan oleh seorang hamba Allah yang paling terbaik di zaman tersebut. Umar bin Abdul Aziz paham, bahwa beliaulah yang dimaksud oleh ramalan Rosulullah s.a.w. Beliau bertanya kepada jin tersebut, menegaskan: "sungguh-kah engkau mendengarnya langsung dari Rosulullah...?! Jin berkata: "demi Allah aku mendengarnya langsung dari Rosulullah...!!!"
Sang jin-pun berlalu. Hening.....
Sang pembantu yang sedari tadi mendengarkan dialog tersebut, diam. Umar memulai pembicaraan dengan berkata kepadanya: "janganlah kejadian ini engkau ceritakan kepada siapapun sampai suatu saat nanti aku mati...."
silahkan ambil hikmah dan pelajaran sendiri :)
windi iskandar [/url]
Suatu hari Umar bin Abdul Aziz berkunjung ke rumah seorang sahabatnya, pendek cerita setelah merasa waktu silaturahmi bersama sahabatnya itu cukup, beliaupun pamit untuk pulang. Sebagai seorang sahabat yang dilandasi rasa persahabatan yang tulus maka dia ingin agar pembantunya mengawal Umar bin Abdul Aziz sampai ke pinggiran desa. Akhirnya Umar pun berjalan pulang dengan menunggang kudanya dan tentu saja ditemani oleh pembantu sahabatnya tersebut. Ditengah perjalanan Umar menghentikan laju kudanya karena ia melihat dihadapannya terdapat bangkai ular yang mati . Umar turun dari kudanya lantas berjalan mendekati bangkai ular tersebut, diangkatnya bangkai tersebut, kemudian ia menggali tanah, membuat sebuah lubang. Ketika selesai lubang digali dikuburkannya bangkai ular tersebut didalam lubang dan ia-pun melanjutkan perjalanannya. Belumlah jauh kudanya melangkah Umar bin Abdul Aziz dan sang pembantu mendengar suara dari belakang mereka memanggil... "wahai khorqo....wahai khorqo....", mereka menoleh kebelakang dengan segera :left::right: namun anehnya tidak ada seorang-pun yang ditangkap oleh penglihatan mereka! Mereka berusaha tidak mengidahkan kejadian aneh tersebut, namun suara itu muncul lagi "wahai khorqo....wahai khorqo....":woried: kemudian Umar berhenti lantas berteriak dengan sigap: "wahai yang memiliki suara tadi, jika anda bisa menampakan diri anda, maka tampakanlah diri anda..!!!" ...dan....munculah seseorang pria pemilik suara tersebut.....
Singkat cerita terjadilah dialog, pria tersebut berkata kepada Umar: "aku adalah jin dan khorqo adalah nama ular yang engkau kuburkan tadi, dia juga adalah jin muslim. Aku dan dia serta kaum kami adalah serombongan jin yang menghadap Rosulullah s.a.w untuk mendengarkan al-Qur'an, yang dikisahkan oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya: "Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu (Muhammad) serombongan jin yang mendengarkan (bacaan) al-Qur'an, maka ketika mereka menghadiri (pembacaan)nya mereka berkata, "Diamlah kamu! (untuk mendengarkannya)" maka ketika telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan" QS: Al-Ahqôf:29.
Ketika itu Rosulullah s.a.w berkata kepada Khorqo bahwa dia suatu hari nanti akan meninggal dunia disebuah padang yang luas dan saat itu dia akan dikebumikan oleh seorang hamba Allah yang paling terbaik di zaman tersebut. Umar bin Abdul Aziz paham, bahwa beliaulah yang dimaksud oleh ramalan Rosulullah s.a.w. Beliau bertanya kepada jin tersebut, menegaskan: "sungguh-kah engkau mendengarnya langsung dari Rosulullah...?! Jin berkata: "demi Allah aku mendengarnya langsung dari Rosulullah...!!!"
Sang jin-pun berlalu. Hening.....
Sang pembantu yang sedari tadi mendengarkan dialog tersebut, diam. Umar memulai pembicaraan dengan berkata kepadanya: "janganlah kejadian ini engkau ceritakan kepada siapapun sampai suatu saat nanti aku mati...."
silahkan ambil hikmah dan pelajaran sendiri :)
Minggu, 2007 Desember 30
Tentang Kami
Allah Ta'ala menobatkan manusia sebagai Khalifah fi al-Ardi yang berkewajiban mengelola, memelihara bumi beserta isinya, dan menegakkan 'Amar Makruf wa Nahyu 'Anil Munkar di tengah-tengahnya.
Muballigh sebagai salah satu komponen masyarakat serta pilar agama, sadar akan hak, kewajiban serta peran dan tanggung jawabnya kepada umat yaitu mewujudkan nilai-nilai islam dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara yang berdasarkan al-Qur'an dan Sunnah.
Meyakini bahwa semua cita-cita diatas tidak dapat terwujud kecuali dengan taufiq dan hidayah Allah serta usaha-usaha yang teratur, terencana dan penuh kebijaksanaan maka para Alumni PKM KODI menghimpun diri dalam Forum Komunikasi Alumni yang selanjutnya disingkat FORKA PKM KODI.
FORKA PKM KODI adalah forum yang berfungsi sebagai wadah komunikasi antar sesama alumnus PKM KODI dalam menjalin ukhuwah serta mensinergikan potensi-potensi mereka guna tercapainya cita-cita dakwah.
Semoga Allah ridho dan membalas niat baik kami.
Muballigh sebagai salah satu komponen masyarakat serta pilar agama, sadar akan hak, kewajiban serta peran dan tanggung jawabnya kepada umat yaitu mewujudkan nilai-nilai islam dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara yang berdasarkan al-Qur'an dan Sunnah.
Meyakini bahwa semua cita-cita diatas tidak dapat terwujud kecuali dengan taufiq dan hidayah Allah serta usaha-usaha yang teratur, terencana dan penuh kebijaksanaan maka para Alumni PKM KODI menghimpun diri dalam Forum Komunikasi Alumni yang selanjutnya disingkat FORKA PKM KODI.
FORKA PKM KODI adalah forum yang berfungsi sebagai wadah komunikasi antar sesama alumnus PKM KODI dalam menjalin ukhuwah serta mensinergikan potensi-potensi mereka guna tercapainya cita-cita dakwah.
Semoga Allah ridho dan membalas niat baik kami.
Langgan:
Entri (Atom)